SELAMAT DATANG DI

KataLiterasi

Merawat Kata, Menumbuhkan Makna
Temukan review buku, rekomendasi buku bacaan, kamus istilah literasi, dan inspirasi membaca.

Review Buku My Home: My Self Karya Aji Tri Prasetyo: Ketika Rumah yang Paling Sulit Dibangun Ternyata Adalah Diri Sendiri

Review Buku My Home: My Self Karya Aji Tri Prasetyo: Ketika Rumah yang Paling Sulit Dibangun Ternyata Adalah Diri Sendiri

 

"Sejauh apa pun kita pergi, pada akhirnya kita selalu pulang. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar nyaman ketika harus pulang kepada diri sendiri?"

Kalimat itulah yang langsung terlintas di kepala saya saat pertama kali membaca judul My Home: My Self.

Judulnya terdengar hangat. Blurb-nya juga menjanjikan.


{getToc} $title={Table of Contents} 

Saya membayangkan akan membaca sebuah buku yang mengajak pembacanya berdamai dengan diri sendiri melalui penjelasan yang dalam, refleksi yang runtut, dan nasihat-nasihat yang perlahan membangun kesadaran bahwa rumah terbaik adalah diri kita sendiri.

Jujur saja, ekspektasi saya sangat tinggi.

Namun setelah halaman demi halaman saya baca, ternyata pengalaman yang saya dapatkan tidak sepenuhnya seperti yang saya bayangkan.

Bukan berarti buku ini buruk. Hanya saja, buku ini lebih cocok disebut sebagai kumpulan quotes reflektif daripada buku self-improvement yang mengupas sebuah gagasan secara mendalam.

Identitas Buku

Judul: My Home: My Self
Penulis: Aji Tri Prasetyo
Penerbit: C--klik Media
Terbit: Tahun 2025
ISBN: 978-623-357-146-3
Genre: Self Improvement, Motivasi, Refleksi Diri
Dapatkan bukunya disini

Blurb

Setiap hari, kita melakukan hal berat yang menguras energi, menjalani kesibukan dan bertemu dengan banyak orang. Sejenak kita melupakan persoalan runyam yang ada di kepala. Tapi ketika kembali ke rumah, hanya hampa yang kita rasa.

Nyatanya, ke mana pun kita melangkah dan sesibuk apa pun kita untuk lari dari segala luka, kita tidak pernah bisa benar-benar melupakannya. Mungkin kita bisa bercerita, tapi lagi-lagi orang lain tidak akan bisa mengerti keadaan kita. Pada akhirnya, kita hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Sebab yang tidak pernah pergi, dan yang paling mengerti, ya hanya diri sendiri.

Review Buku My Home: My Self

Judul dan Blurb yang Berhasil Membangun Ekspektasi Tinggi

Ada buku yang membuat kita penasaran sejak melihat sampulnya. Ada pula buku yang membuat kita langsung ingin membacanya hanya karena judulnya. My Home: My Self termasuk buku yang kedua.

Judulnya sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam. Ditambah lagi dengan blurb yang mengangkat keresahan banyak orang tentang rasa lelah, kesepian, dan pencarian tempat pulang, saya benar-benar berekspektasi akan menemukan pembahasan yang mendalam mengenai cara menerima diri sendiri.

Saya membayangkan setiap bab akan membahas satu tema, lalu dijelaskan dengan cerita, pengalaman, atau refleksi yang membuat pembaca memahami alasan di balik setiap nasihat.

Sayangnya, ekspektasi itu tidak sepenuhnya terpenuhi.

Lebih Mirip Buku Quotes daripada Buku Self Improvement

Hal pertama yang cukup mengejutkan bagi saya adalah isi buku ini.

Alih-alih menghadirkan pembahasan yang mendalam, buku ini justru berisi sekitar 140 quotes pendek yang dibagi ke dalam beberapa bab.

Banyak quote yang sebenarnya bagus.

Singkat.

Padat.

Dan cukup relatable.

Namun karena hampir semuanya berdiri sendiri tanpa penjelasan lebih lanjut, saya merasa seperti membaca kumpulan caption media sosial yang dikumpulkan menjadi sebuah buku.

Padahal, menurut saya, banyak quote tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pembahasan yang jauh lebih bermakna.

Di sinilah letak rasa "kurang puas" yang saya rasakan setelah selesai membaca.

Tema Bab Kurang Terasa

Hal lain yang cukup mengganjal adalah pembagian babnya. Setiap bab sebenarnya sudah memiliki tema masing-masing.

Namun ketika saya membaca isi quote di dalamnya, saya justru kesulitan menemukan benang merah antara judul bab dengan isi quote yang disajikan.

Beberapa quote terasa sangat sesuai. Namun tidak sedikit pula yang menurut saya bisa saja ditempatkan di bab lain tanpa mengubah maknanya. Akibatnya, keberadaan pembagian bab terasa kurang memiliki fungsi yang kuat.

Padahal kalau pengelompokan temanya dibuat lebih konsisten, pengalaman membaca tentu akan terasa lebih nyaman.

Sistem Penomoran yang Menurut Saya Kurang Efektif

Satu hal kecil yang cukup mengganggu pengalaman membaca saya adalah sistem penomoran quote. Nomor quote terus berlanjut dari halaman pertama hingga halaman terakhir, meskipun sudah berganti bab.

Bagi sebagian pembaca mungkin ini bukan masalah. Namun menurut saya, sistem seperti ini justru membuat identitas setiap bab menjadi kurang terasa.

Kalau saja penomorannya diulang dari angka satu setiap memasuki bab baru, pembaca akan lebih mudah memahami bahwa mereka sedang memasuki pembahasan yang berbeda. Mungkin terdengar sederhana, tetapi detail seperti ini cukup berpengaruh terhadap kenyamanan membaca.

Ilustrasinya Menjadi Penyegar di Tengah Deretan Quotes

Untungnya, buku ini masih memiliki ilustrasi-ilustrasi hitam putih dan biru yang cukup menarik. Walaupun sederhana, ilustrasi tersebut berhasil menjadi jeda visual sehingga mata tidak terus-menerus membaca deretan quote.

Desain keseluruhan buku juga terasa bersih dan minimalis, sesuai dengan tema refleksi diri yang ingin diangkat.

Kalau saja isi setiap bab lebih fokus pada satu tema tertentu, menurut saya buku ini bisa menjadi jauh lebih kuat.

Kelebihan Buku

  • Judul dan konsep buku sangat menarik serta mudah membuat pembaca penasaran.
  • Banyak quote yang singkat, padat, dan mudah dijadikan bahan refleksi.
  • Bahasa sederhana sehingga cocok dibaca oleh semua kalangan.
  • Layout bersih dengan ilustrasi hitam putih yang membuat buku terasa ringan.
  • Cocok dibaca sedikit demi sedikit ketika membutuhkan penyemangat.

Kekurangan Buku

  • Isi buku lebih menyerupai kumpulan quotes daripada pembahasan self-improvement yang mendalam.
  • Beberapa quote terasa kurang relevan dengan tema bab yang sedang dibahas.
  • Penomoran quote berlanjut hingga akhir buku sehingga pembagian bab terasa kurang memiliki fungsi.
  • Banyak gagasan menarik yang sebenarnya bisa dikembangkan lebih jauh, tetapi hanya berhenti dalam beberapa kalimat.

Rating Buku

⭐⭐⭐ 3,5/5 atau Bagus

Saya memberikan nilai 3,5 dari 5 atau Bagus, karena buku ini memiliki konsep yang sangat menarik dan banyak quote yang mampu menyentuh pembacanya. Sayangnya, ekspektasi saya terhadap isi buku yang lebih mendalam belum sepenuhnya terpenuhi. Jika setiap quote diberi penjelasan atau refleksi singkat, menurut saya pengalaman membacanya akan jauh lebih berkesan.

Pesan Moral / Refleksi Diri Setelah Membaca

Buku ini mengingatkan saya bahwa rumah bukan selalu tentang bangunan yang kita tinggali. Rumah juga bisa berarti tempat paling aman untuk kembali ketika dunia terasa melelahkan, dan tempat itu seharusnya adalah diri kita sendiri.

Saya juga belajar bahwa menerima diri sendiri bukanlah sesuatu yang selesai dalam semalam. Kita sering sibuk mencari tempat untuk berkeluh kesah, padahal orang yang paling lama menemani hidup kita adalah diri sendiri. Karena itu, belajar berdamai dengan diri sendiri menjadi perjalanan yang tidak bisa diwakilkan oleh siapa pun.

Di sisi lain, pengalaman membaca buku ini juga membuat saya menyadari bahwa sebuah kalimat bijak memang mampu menginspirasi, tetapi maknanya akan terasa lebih kuat ketika disertai cerita atau penjelasan yang membantunya benar-benar mengendap di dalam pikiran.

Pada akhirnya, My Home: My Self mengingatkan bahwa pulang bukan hanya soal kembali ke sebuah tempat, tetapi juga tentang kembali mengenal, menerima, dan menghargai diri sendiri. Sebab rumah yang paling setia menemani kita sejak lahir hingga akhir hayat adalah diri kita sendiri.

Kutipan Buku

Perjalanan masih panjang dan tidak semuanya harus terjawab sekarang

Untuk diri sendiri, jika dirimu saja membenciku, lalu siapa yang akan mencaintaimu?

Jadiah diri sendiri, karena yang asli lebih berharga daripada yang replika

Terkadang, untuk mencapai saat yang indah, banyak hal yang membuat kita kehilangan arah

Kita hanya perlu menjadi seseorang yang baru tanpa melibatkan orang baru

Zona nyaman tidak lain adalah kuburan untuk impian dan akalmu

Tidak masalah seberapa lambat kamu berjalan, asalkan kamu tidak pernah berhenti

Pembaca yang Cocok untuk Buku Ini

Saya merekomendasikan buku ini untuk:

  • Pembaca yang menyukai buku berisi quotes reflektif.
  • Remaja dan mahasiswa yang sedang belajar mengenal diri sendiri.
  • Pecinta buku self-healing dengan bacaan ringan.
  • Pembaca yang ingin mencari inspirasi singkat setiap hari.
  • Content creator atau penulis yang membutuhkan referensi kalimat-kalimat reflektif.

Namun, jika Anda mencari buku self-improvement dengan pembahasan yang mendalam dan penuh studi kasus, mungkin buku ini belum menjadi pilihan yang paling tepat.

Rekomendasi Buku Sejenis

Jika Anda menyukai tema yang diangkat buku ini, beberapa buku berikut layak masuk daftar bacaan:

Tenang, A Book That Can Hold You Tight — Lapinggala
Filosofi Teras — Henry Manampiring
Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat — Mark Manson
The Things You Can See Only When You Slow Down — Haemin Sunim
The Comfort Book — Matt Haig
Atomic Habits — James Clear
Berani Tidak Disukai (The Courage to Be Disliked) — Ichiro Kishimi & Fumitake Koga

Kesimpulan

My Home: My Self adalah buku yang menawarkan banyak kalimat reflektif dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami. Judulnya berhasil menarik perhatian, sementara blurb-nya membangun harapan akan sebuah perjalanan untuk berdamai dengan diri sendiri. Meski bagi saya isi bukunya lebih menyerupai kumpulan quotes daripada pembahasan self-improvement yang utuh, bukan berarti buku ini kehilangan nilainya. Ada banyak kutipan yang mampu menjadi pengingat di tengah rutinitas yang melelahkan.

Jika Anda sedang mencari bacaan ringan yang bisa dibuka kapan saja untuk menemukan satu atau dua kalimat yang menguatkan hari, buku ini layak dicoba. Namun apabila Anda mengharapkan pembahasan yang mendalam dan sistematis tentang self-love dan penerimaan diri, mungkin Anda perlu menyesuaikan ekspektasi sebelum membacanya. 

FAQ tentang Buku My Home: My Self

Apakah buku ini berupa novel?
Bukan. Buku ini merupakan kumpulan quotes reflektif yang membahas penerimaan diri, kehidupan, dan proses mengenal diri sendiri.

Apakah buku ini cocok untuk pemula?
Ya. Bahasa yang digunakan sederhana sehingga mudah dipahami oleh pembaca yang baru mulai membaca buku self-improvement.

Apakah buku ini harus dibaca berurutan?

Tidak harus. Karena berisi kumpulan quote, pembaca bisa membuka halaman mana saja dan tetap menikmati isi bukunya.

Apakah buku ini cocok untuk pencinta buku self-improvement?
Cocok jika Anda menyukai bacaan ringan berupa kutipan-kutipan inspiratif. Namun jika menginginkan pembahasan yang mendalam, Anda mungkin akan merasa ekspektasinya belum sepenuhnya terpenuhi. 

Jaenal Jalalludin

Blogger, Fotografer, Backpaker yang suka sekali bertualang terutama naik gunung karena selalu bikin raindu jika sudah diatas sana

Lebih baru Lebih lama
Hadiah 56Th Penuh Makna

Formulir Kontak