Ada banyak cara menikmati Yogyakarta.
Sebagian orang datang untuk berburu gudeg, mengejar matahari terbit di Bukit Bintang, atau menyusuri Malioboro sampai kaki pegal. Sebagian lain sengaja datang untuk duduk lama di kedai kopi kampung sambil memperhatikan orang-orang lalu-lalang, seolah waktu di kota ini memang dibuat lebih longgar.
Tapi bagi seorang pencinta buku, Jogja punya cara lain untuk dikenali.
Lewat rak-rak bukunya.
{getToc} $title={Table of Contents}
Dan salah satu rute yang paling sayang dilewatkan untuk urusan itu adalah Jalan Kaliurang — jalur yang oleh mahasiswa dan warga lokal akrab disingkat Jakal. Jalan ini membentang dari kawasan utara Kota Yogyakarta terus naik menuju lereng Merapi. Semakin jauh kita berkendara, suasana kota pelan-pelan luruh. Gedung dan kepadatan kendaraan berganti dengan pohon-pohon yang lebih rapat, udara yang lebih dingin, dan tempat-tempat yang rasanya memang diciptakan untuk membuat orang berhenti sejenak.
Sepanjang dan di sekitar koridor Jalan Kaliurang inilah, ekosistem literasi Jogja Utara tumbuh dengan caranya sendiri. Ada penerbit yang membuka pintunya untuk pembaca. Ada toko buku independen yang terasa seperti rumah seorang kolektor. Ada kafe yang diam-diam menyimpan rak buku di sudut ruangnya. Ada ruang baca komunitas yang membiarkan siapa saja masuk tanpa harus membeli apa pun.
Artikel ini merangkum satu rute lengkap wisata literasi Jogja di jalur Kaliurang — dari titik paling dekat kota sampai yang paling dekat Merapi. Kalau kamu sedang mencari referensi toko buku di Jogja, book café Jogja, atau sekadar ide itinerary yang tidak melulu soal foto, rute ini cocok dicoba.
1. Shira Media Library & Coffee Corner — Ketika Penerbit Membuka Pintu untuk Pembaca
Titik awal yang pas untuk memulai perjalanan ini adalah Shira Media.
Tempat ini bukan toko buku biasa yang kebetulan menjual kopi. Shira Media adalah penerbit asal Yogyakarta yang memutuskan membuka ruang gabungan antara bookstore, library, dan coffee corner di kawasan Sleman. Pengunjung bisa melihat-lihat koleksi buku, membaca di tempat, sambil menyeruput kopi di ruang yang memang dirancang untuk betah berlama-lama.
![]() |
| Shira Media Jogja foto by instagram shiramedia |
Yang membuat pengalaman di sini terasa berbeda adalah kedekatan antara buku dan orang yang menerbitkannya. Biasanya kita mengenal sebuah buku setelah melihatnya terpajang di toko. Di Shira Media, kita seperti diajak mengintip sedikit lebih dekat ke dapur penerbitan itu sendiri — rak-rak bukunya jadi semacam pintu kecil menuju dunia di baliknya.
Koleksi bukunya juga tidak sedikit; beberapa sumber menyebut jumlahnya mencapai ribuan judul, sehingga tempat ini bukan sekadar etalase untuk berjualan, tapi benar-benar berfungsi sebagai ruang baca.
Dan mungkin bagian terbaiknya: kamu tidak wajib datang dengan niat membeli buku. Datang saja, lihat-lihat raknya, baca beberapa halaman, lalu ngopi. Kalau akhirnya pulang membawa satu-dua buku, anggap itu oleh-oleh dari perjalanan.
📍 Jl. Dersono, Ceper, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta
🕐 Jam operasional yang tercatat saat ini: 07.00–22.00, setiap hari (sebaiknya dicek ulang sebelum berangkat)
Cocok untuk: pemburu buku, penulis, mahasiswa, pekerja kreatif, dan siapa pun yang senang menghabiskan waktu di antara buku dan kopi.
2. Solusi Buku — Tempat yang Membuat Membaca Tidak Terasa Seperti Kegiatan Serius
Masih di kawasan yang sama, perjalanan bisa dilanjutkan ke Solusi Buku di Jalan Karanganyar Raya, Blotan, Wedomartani.
Kalau Shira Media memberi pengalaman melihat hubungan penerbit dan pembaca, Solusi Buku terasa lebih seperti ruang terbuka untuk membaca, bekerja, bertemu teman, sekaligus ngopi. Tempat ini menggabungkan toko buku dengan kafe dan area yang dirancang khusus untuk membuat orang betah berlama-lama.
![]() |
| Solusi Buku Jogja foto by instagram agentdahariini_ |
Ada buku fiksi, ada nonfiksi, ada juga rak khusus buku anak. Tempat duduknya pun bertingkat dan variatif — mulai dari kursi biasa, sofa, sampai lesehan di atas karpet. Jadi pengalamannya jauh dari kesan kaku ala toko buku konvensional.
Solusi Buku juga beberapa kali menjadi ruang untuk diskusi buku, workshop, sampai pameran seni kecil-kecilan. Artinya, tempat ini bukan cuma menjual buku, tapi ikut menciptakan pertemuan antara pembaca dan komunitas kreatif di sekitarnya.
Kelebihan tempat seperti ini sering tidak tercantum di daftar fasilitas mana pun: ia memberi alasan untuk tinggal lebih lama. Dan dalam perjalanan literasi, waktu yang sedikit lebih lambat biasanya menghasilkan pengalaman yang jauh lebih banyak.
📍 Jl. Karanganyar Raya, Blotan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta
🕐 Jam operasional yang tercatat saat ini: 09.00–21.00, setiap hari
Cocok untuk: book café hunter, mahasiswa, pekerja remote, pembaca santai, komunitas, dan pasangan yang ingin mencoba book date yang tidak biasa.
3. Mojok Store & Akademi Bahagia EA — Datang untuk Buku, Bisa-Bisa Lupa Pulang
Perjalanan diteruskan ke kawasan Ngebo, tempat Mojok Store dan Akademi Bahagia EA berdiri berdampingan.
Kompleks ini memadukan toko buku, perpustakaan, ruang belajar, co-working space, ruang publik, hingga area hijau terbuka. Di satu sisi kamu bisa melihat-lihat koleksi di Mojok Store; di sisi lain ada ruang baca yang membuka akses gratis bagi siapa saja yang ingin duduk dan membaca tanpa embel-embel transaksi.
![]() |
| Toko Buku Mojok Store Jogja foto by instagram amberrtrixx |
Suasananya jauh dari kesan perpustakaan yang mengharuskan kita duduk diam dengan wajah serius. Justru lebih terasa seperti berkunjung ke rumah teman yang kebetulan punya koleksi buku cukup banyak. Halaman hijaunya menambah rasa santai itu — bayangkan sore hari, rumput, udara Jogja utara, satu buku yang baru dibeli, lalu kamu duduk membaca beberapa halaman tanpa target harus menghabiskan satu bab, tanpa tuntutan harus produktif. Hanya membaca. Dan kadang, itu saja sudah cukup.
Akademi Bahagia EA juga kerap dipakai untuk kegiatan belajar dan komunitas, dengan perpustakaan yang terbuka untuk dibaca gratis di area yang disediakan.
📍 Ngebo, Jl. Raya Ngebo, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman
Cocok untuk: pembaca santai, mahasiswa, komunitas, pencari tempat belajar, dan siapa pun yang ingin membaca tanpa suasana kaku.
4. Buku Akik — Toko Buku yang Terasa Seperti Rumah Seorang Kolektor
Sekitar kilometer 12 Jalan Kaliurang, kita perlu masuk sedikit ke gang untuk menemukan salah satu tempat paling berkarakter dalam rute ini: Buku Akik.
Dari luar, tempat ini tidak berteriak meminta perhatian — justru terkesan sederhana. Tapi begitu masuk, suasananya langsung berubah. Rak-rak buku, kursi tua, dekorasi kecil, dan aroma khas ruangan penuh buku membuatnya lebih mirip rumah seorang kolektor daripada toko buku pada umumnya.
![]() |
| Buku Akik Jogja foto by instagram bukuakik |
Buku Akik adalah toko buku independen sekaligus perpustakaan, lahir dari komunitas pembaca Rumah Kata Jogja yang kemudian berkembang menjadi ruang pertemuan antara toko buku, perpustakaan, dan komunitas. Koleksinya mencakup buku baru maupun lawas — sastra, sejarah, politik, seni, filsafat, dan berbagai bacaan lain yang jarang nongkrong di rak toko buku besar.
Ada kesenangan tersendiri berburu buku di tempat seperti ini. Niat awal cuma membeli satu judul, lalu mata tertarik ke buku kedua, kemudian menemukan judul lama yang sudah lama tak terlihat, lalu buku lain yang bahkan tidak pernah masuk daftar pencarian. Sebelum sadar, wishlist yang tadinya tiga judul sudah berubah jadi satu tas penuh.
Interior bernuansa vintage dan suasana homey-nya membuat pengalaman berkunjung ke Buku Akik terasa berbeda dari toko buku jaringan besar mana pun.
📍 Jl. Kaliurang Km 12, Gg. Besi Raja No. 60D, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman
Cocok untuk: pemburu buku indie, sastra, sejarah, filsafat, buku lawas, dan pencinta suasana vintage.
5. Rumah Kata Library — Jejak Komunitas di Balik Rak Buku Akik
Masih di kawasan Km 12, tak jauh dari Buku Akik, ada Rumah Kata Library — nama yang menyimpan sejarah panjang komunitas literasi di jalur ini.
Seperti disebutkan sebelumnya, Buku Akik memang berakar dari komunitas pembaca Rumah Kata Jogja, yang kemudian tumbuh menjadi bagian penting dari perjalanan toko buku independen tersebut. Mengunjungi Rumah Kata Library mengingatkan kita bahwa ekosistem literasi tidak selalu lahir dari penerbit besar atau toko buku raksasa.
![]() |
| Rumah Kata Library foto by instagram rumahkata.library |
Ia bisa lahir dari sekumpulan orang yang mulanya hanya suka membaca, lalu bertemu, berdiskusi, bertukar buku, membicarakan penulis favorit, dan akhirnya menciptakan sebuah ruang bersama. Begitulah literasi sering tumbuh — dari orang-orang yang mau berkumpul.
📍 Jalan Kaliurang Km 12,5, kawasan Gg. Kenanga, Sleman
Cocok untuk: pencinta komunitas, pembaca independen, dan siapa pun yang ingin melihat sisi lain ekosistem literasi Jogja.
6. Toko Akal Buku — Tempat Kecil yang Layak Masuk Radar Pemburu Buku
Masih di sekitar Sardonoharjo, satu nama lagi yang layak masuk daftar: Akal Buku.
![]() |
| Toko Akal Buku Jogja foto by instagram akalbuku |
Bagi traveler literasi, toko sekecil ini justru menawarkan pengalaman berbeda dari jaringan toko buku besar. Kita tidak datang untuk mencari buku yang sedang ramai dibicarakan orang, tapi untuk melihat apa yang sedang dirawat oleh toko buku independen — judul yang tidak pernah masuk rekomendasi algoritma, buku dari penerbit yang jarang muncul di media sosial, atau karya yang kita temukan hanya karena kebetulan tangan salah mengambil rak.
Justru di situlah kejutan-kejutan kecil biasanya muncul.
📍 Jl. Garuda No. 110, Ngebel Gede, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman
Cocok untuk: pemburu toko buku independen dan pembaca yang senang menemukan bacaan di luar daftar bestseller.
7. Ruang Literasi Kaliurang — Kalau Ingin Benar-Benar "Kabur" Bersama Buku
Semakin jauh ke arah Kaliurang, perjalanan mulai terasa berbeda. Udara lebih sejuk, pepohonan lebih rapat, suara kendaraan tidak lagi sedominan kawasan kota. Di Bondosari, Pakem, berdiri satu tempat yang rasanya memang dibuat untuk mereka yang ingin berhenti sejenak: Ruang Literasi Kaliurang (RLK).
Dibuka untuk publik sejak Februari 2025, RLK dirancang bukan hanya sebagai perpustakaan, tapi juga ruang publik dan ruang komunitas. Skalanya cukup besar — koleksinya disebut lebih dari 10.000 buku, lengkap dengan ruang baca yang bisa dipakai masyarakat umum secara gratis. Fasilitasnya pun tidak main-main: ada ruang diskusi, pendopo, plaza, bioskop mini, hingga ruang workshop.
![]() |
| Ruang Literasi Kaliurang Jogja foto by instagram indahnurazizah._ |
Kalau selama ini kamu berpikir wisata literasi hanya soal datang ke toko buku dan berbelanja, RLK mungkin akan sedikit mengubah pandangan itu. Di sini kamu bisa datang tanpa misi belanja, tanpa harus pulang membawa kantong berisi buku. Cukup datang, cari rak yang menarik, pilih satu judul, duduk, lalu biarkan waktu berjalan sendiri.
Ada sesuatu yang berbeda dari membaca di kawasan Kaliurang — buku yang sama bisa terasa lain ketika dibaca di tengah udara yang lebih dingin, jauh dari kebisingan pusat kota. Dan begitu keluar dari ruang baca, boleh jadi langit Jogja utara sudah berganti warna tanpa kita sadari.
📍 Bondosari, Harjobinangun, Pakem, Sleman
Cocok untuk: pembaca serius, keluarga, anak-anak, mahasiswa, komunitas, dan pencari tempat membaca yang tenang.
Rute Satu Hari: Merangkai Semua Titik Jadi Satu Perjalanan
Kalau kamu punya satu hari penuh untuk menjelajahi sisi literasi Jogja Utara, jangan buru-buru mengejar sebanyak mungkin tempat. Nikmati saja rutenya.
Pagi — Shira Media
Mulai hari dengan kopi sambil melihat-lihat koleksi buku terbitan sendiri.
Menjelang siang — Solusi Buku
Lanjutkan dengan membaca, mencari buku, makan ringan, atau bekerja sebentar di ruang yang lebih santai.
Siang menuju sore — Mojok Store
Bergeser ke ruang yang lebih hijau — duduk di halaman, baca beberapa halaman tanpa target.
Sore — Buku Akik (dan Rumah Kata Library serta Akal Buku di sekitarnya)
Masuk ke koridor Jalan Kaliurang Km 12, berburu buku di toko-toko independen berkarakter vintage. Luangkan waktu, jangan terburu-buru — toko seperti ini memang bukan tempat untuk buru-buru.
Menjelang petang — Ruang Literasi Kaliurang
Tutup hari dengan membaca di kawasan yang lebih sejuk dan asri, dekat kaki Merapi.
Dan kalau dipikir-pikir lagi, rute ini bukan sekadar daftar toko buku yang disusun berurutan. Ia adalah perjalanan dari penerbit → toko buku → kafe buku → ruang komunitas → toko buku independen → perpustakaan publik — sebuah potret kecil bagaimana sebuah kota merawat budaya membacanya lewat berbagai bentuk ruang.
Untuk rute perjalanan Traveling Literasi ini KataLiterasi.ID sudah membuatkan rute via Google Maps bisa diakses di link berikut ini Rute Jalan-Jalan Literasi di Jalan Kaliurang Jogja Biar mempermudah kamu yang ingin jalan-jalan Traveling Literasi di Jogja nih.
Jalan Kaliurang dan Cara Jogja Merawat Buku
Ada alasan mengapa perjalanan literasi di Jogja terasa berbeda dari kota lain.
Kota ini memiliki ekosistem buku yang panjang — kampus, komunitas, penerbit, toko buku independen, perpustakaan, diskusi, sampai ruang-ruang kecil yang tumbuh dari kegelisahan orang-orang terhadap bacaan. Dan Jalan Kaliurang adalah salah satu koridor yang paling menarik untuk melihat potongan ekosistem itu dari dekat.
Di satu sisi ada kedai kopi. Di sisi lain ada toko buku. Beberapa kilometer kemudian muncul perpustakaan. Lalu ada ruang komunitas. Semakin jauh kita berkendara, semakin terasa bahwa buku tidak melulu harus tinggal di dalam gedung bernama "perpustakaan".
Buku bisa tinggal di kedai kopi. Di ruang komunitas. Di rumah seseorang yang disulap jadi toko kecil. Di gang sempit yang harus dicari dengan navigasi. Atau di halaman hijau tempat seseorang membaca sambil rebahan tanpa peduli jam.
Mungkin itulah yang membuat perjalanan literasi di Jogja begitu menyenangkan untuk diulang-ulang: kita tidak sekadar mencari buku, tapi sedang mencari tempat-tempat di mana buku masih memiliki kehidupan. Dan Jalan Kaliurang punya cukup banyak cerita untuk itu.
Jadi, kalau suatu hari kamu berada di Jogja dan bosan dengan itinerary yang itu-itu saja, coba ambil arah utara. Tidak perlu membawa daftar destinasi yang terlalu panjang — cukup bawa motor, waktu luang, dan satu ruang kosong di dalam tas.
Karena kemungkinan besar, kamu akan pulang membawa buku yang sebelumnya tidak pernah kamu rencanakan untuk dibeli.
Dan mungkin, justru itu bagian terbaik dari perjalanan.
Catatan untuk Traveler Literasi
Jam operasional dan kebijakan kunjungan dapat berubah sewaktu-waktu, terutama untuk ruang komunitas, perpustakaan, dan toko buku independen. Sebaiknya cek kembali informasi terbaru sebelum berangkat.
Beberapa tempat dalam rute ini juga berada di dalam gang atau kawasan permukiman, jadi jangan hanya mengandalkan papan nama dari jalan utama — gunakan navigasi digital dan tetap perhatikan lingkungan sekitar selama berkunjung.
Dan satu aturan tidak tertulis yang sebaiknya selalu dibawa oleh traveler literasi: jangan datang hanya untuk berfoto. Belilah satu buku jika mampu. Baca beberapa halaman jika punya waktu. Tanyakan kegiatan komunitas jika sedang berlangsung. Kalau menemukan tempat kecil yang sedang berjuang merawat buku, dukung sebisanya — sebab ruang literasi hanya akan terus hidup kalau ada orang yang mau datang, membaca, membeli, berbagi, dan kembali lagi.
Selamat menjelajahi Jogja, satu rak buku demi satu rak buku.
Merawat kata, menumbuhkan makna.








