SELAMAT DATANG DI

KataLiterasi

Merawat Kata, Menumbuhkan Makna
Temukan review buku, rekomendasi buku bacaan, kamus istilah literasi, dan inspirasi membaca.

Resensi Gaza, Suatu Malam di Jakarta: Ketika 18 Cerpen Saling Bertaut demi Satu Kemanusiaan

Resensi Gaza, Suatu Malam di Jakarta: Ketika 18 Cerpen Saling Bertaut demi Satu Kemanusiaan

Bagaimana rasanya membaca cerita dari sudut pandang orang yang justru menjadi bagian dari kehancuran itu sendiri?

Itulah salah satu kejutan terbesar dari buku Gaza, Suatu Malam di Jakarta. Buku ini tidak berhenti pada kisah duka dari sisi korban, tapi berani masuk ke kepala tokoh-tokoh yang berada di pihak seberang—mereka yang selama ini menjadi bagian dari mesin kehancuran itu sendiri. Dan justru di situlah letak kekuatan buku ini yang paling mengguncang.

{getToc} $title={Table of Contents} 

Identitas Buku

  • Judul: Gaza, Suatu Malam di Jakarta
  • Penulis: Helvy Tiana Rosa
  • Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
  • Tahun Terbit: Cetakan Pertama (2026)
  • ISBN: 978-623-8771-59-2
  • ISBN Digital: 978-623-8771-58-5
  • Halaman Isi: 167 halaman 
  • Genre: Kumpulan Cerpen (Sastra Kemanusiaan/Palestina)
  • Jumlah Cerpen: 18 cerpen
  • Periode Penulisan: 2023–2026


Blurb

"Gaza, Suatu Malam di Jakarta menghimpun cerpen-cerpen baru berlatar Palestina, yang ditulis pengarangnya dalam rentang 2023–2026, periode ketika kekerasan berlangsung makin keji, kian sistematis, dan dunia kerap memilih abai. Kekuatan buku ini terletak pada riset yang presisi dan pengolahan naratif yang matang: arsip sejarah, laporan medis, serta kesaksian penyintas diolah menjadi cerita yang akurat sekaligus mengguncang. Detail keseharian, dari kamp pengungsian hingga ruang interogasi, tidak berhenti sebagai latar, tetapi menjadi struktur makna yang memperlihatkan bagaimana kekerasan bekerja pada tubuh dan jiwa.

Beragam latar—Gaza, Yerusalem, Washington, hingga Jakarta—membentuk spektrum pengalaman yang luas, sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang Palestina: apa yang sesungguhnya terjadi, bagaimana narasi global dibangun, dan di mana posisi Indonesia sebagai bangsa dengan sejarah penjajahan. Di tangan pengarang, sastra tidak berhenti sebagai ekspresi, melainkan berfungsi sebagai diplomasi budaya, menembus batas geopolitik, menyentuh kesadaran lintas bangsa, dan mengartikulasikan keberpihakan ketika jalur politik sering terhambat oleh ragam kepentingan.

Lebih dari sekadar kumpulan cerita, buku ini adalah kesaksian yang bekerja sunyi namun persisten: menjaga memori, merawat empati, dan menolak lupa. Dengan spektrum gaya yang luas—lirih, satir, getir, hingga kontemplatif—cerpen-cerpen di dalamnya menegaskan satu hal yang tak bergeser: keberpihakan sastra pada kemanusiaan dan keadilan."

Review Buku: Bukan Sekadar Kisah Duka, Tapi Peta Kemanusiaan yang Utuh

Jujur, ekspektasi awal saya sebelum membaca buku ini cukup sederhana: mungkin isinya akan berkisar pada duka Gaza dan bagaimana hal itu berkaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ternyata dugaan saya meleset—dan meleset dengan cara yang menyenangkan.

Delapan belas cerpen dalam buku ini punya ruhnya masing-masing, tapi begitu selesai membaca semuanya, saya sadar bahwa cerita-cerita ini sebenarnya saling bertaut, bahkan lewat sudut pandang yang paling tidak terduga sekalipun—termasuk sudut pandang tokoh-tokoh yang justru menjadi bagian dari amunisi yang menghancurkan Gaza. Buku ini tidak berhenti memperlihatkan kehancuran, tapi melangkah lebih jauh: memperlihatkan bagaimana sastra bisa menjadi bentuk perlawanan untuk kemanusiaan dan keadilan itu sendiri.

Yang paling mengejutkan, buku ini juga menyuguhkan sisi manusia dari pihak yang selama ini digambarkan sebagai keras dan beringas. Ada cerita tentang parfum, jarum, benang, hingga jendela yang menjadi saksi kain warisan yang mengungkap jati diri seseorang. Ada pula kisah tentang keheningan, tentang dua keyakinan berbeda yang tetap bisa berjalan beriringan, dan tentang kembalinya kemanusiaan dalam jiwa seseorang yang sebelumnya sudah terdoktrin untuk membenci dan bersikap apatis terhadap Palestina dan Gaza. Delapan belas cerpen ini punya jalan ceritanya sendiri-sendiri, tapi semuanya menyuarakan satu hal yang sama: kamu tidak perlu menjadi orang Islam untuk mendukung Palestina—cukup menjadi manusia.

Dari sisi gaya bahasa, ini murni ciri khas Helvy Tiana Rosa yang sudah tidak diragukan lagi: metafora indah dengan sentuhan puitis yang terasa seperti sihir, membuat pembaca bisa membayangkan atmosfer, udara, hingga detail latar cerita secara utuh. Bukan sekadar deskripsi, tapi pendeskripsian yang cantik dan mengena, seolah membawa kita benar-benar masuk ke dalam ceritanya.

Secara emosional, buku ini bekerja dengan cara yang tidak terduga. Baru di cerpen pertama saja, hati sudah tersayat lewat tokoh Laila. Di cerpen kedua, ada sensasi seperti ditusuk jarum. Ada pula wangi parfum keberanian yang membuat merinding, hingga sebuah kuburan yang tak bisa digali. Beberapa tokoh dari pihak yang bersebrangan—Tamar, Noam, hingga Yael—justru mengalami pembalikan hati yang tidak saya duga sebelumnya. Cerpen "Sang Pejuang" terasa sangat dekat dengan keseharian orang Indonesia, bukan hanya karena latarnya di Jakarta, tapi karena caranya menyentil dan menampar dengan satir yang mengena—termasuk untuk saya sendiri. Ada juga kisah seorang ibu yang benar-benar menunjukkan makna keibuan dalam cerpen "Bendera yang Tak Tunduk". Meski latarnya berbeda-beda, semua cerita ini punya ruh dan muatan emosional yang membuat saya benar-benar merasakan apa yang dirasakan tokoh-tokohnya.

Satu hal lagi yang membuat buku ini terasa istimewa: beberapa halamannya dilengkapi ilustrasi sketsa hitam putih yang penempatannya pas, selaras dengan cerita yang mendahuluinya. Ilustrasi-ilustrasi ini bukan sekadar pemanis, tapi juga jadi jeda visual yang menyegarkan di antara cerita-cerita yang cukup berat secara emosional.

Selain itu ada bonus 2 puisi tentang Palestina dari Helvy Tiana Rosa yang memang seorang sastrawan yang lihay dalam memadukan kata demi kata yang melahirkan diksi puisi yang indah penuh makna.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan:

  • Struktur 18 cerpen yang saling terhubung lewat berbagai sudut pandang, termasuk sudut pandang pihak yang bersebrangan—sesuatu yang jarang ditemukan dalam sastra bertema Palestina di Indonesia.
  • Riset yang matang: arsip sejarah, laporan medis, dan kesaksian penyintas diolah menjadi narasi yang akurat sekaligus menggugah.
  • Gaya bahasa metaforis dan puitis yang menjadi ciri khas Helvy Tiana Rosa, membuat pembaca seolah benar-benar berada di dalam cerita.
  • Pesan kemanusiaan yang universal dan lintas agama—buku ini secara eksplisit menegaskan bahwa mendukung Palestina bukan soal identitas agama tertentu, melainkan soal menjadi manusia.
  • Variasi nada cerita yang luas: lirih, satir, getir, hingga kontemplatif, sehingga tidak monoton meski mengangkat tema besar yang sama.
  • Ilustrasi sketsa hitam putih yang ditempatkan secara pas, menjadi jeda visual yang menyegarkan.

Kekurangan:

  • Hampir tak ada kekurangan secara keseluruhan untuk kumpulan cerpen ini. Mungkin hanya ada satu poin yang mengganjal bagi saya pribadi. Dimana ada dua cerpen di mana tokoh utamanya berpindah ke dimensi lain. Transisinya sempat terasa membingungkan di awal karena minim penanda yang jelas—misalnya kalimat pembuka yang menandakan tokoh tertidur dan bermimpi, atau keterangan flashback waktu di bagian akhir. Namun setelah dibaca ulang, alurnya jadi lebih jelas, tapi penekanan sedikit lebih tegas di bagian transisi ini akan sangat membantu pembaca agar tidak perlu mengulang bacaan. Tapi ini tak mengurangi atau mengganggu alur dari ceritanya serta makna yang ingin disampainkan tetap terasa.

Rating Buku dan Alasannya

Rating: 4,8 / 5 atau ISTIMEWA

Buku ini nyaris sempurna dari sisi kedalaman riset, keberanian sudut pandang, dan kekuatan bahasa serta mampu menghadirkan sudut pandang dari banyak hal sampai masuk di kepala para mortir yang menghancurkan Gaza. Jujur ini kejutan besar sih dan berani yang akhirnya membuat buku ini objektif dan lengkap isinya. 

Poin yang mengganjal hanya satu hal teknis: transisi ke dimensi lain di dua cerpen yang bisa sedikit membingungkan pembaca di percobaan baca pertama. Namun karena masalah ini bisa terselesaikan setelah pembacaan ulang dan tidak mengurangi kekuatan pesan tiap cerita, rating tinggi ini tetap pantas diberikan.

Pesan Moral dan Refleksi Diri

Salah satu pesan paling kuat dari buku ini adalah bahwa kemanusiaan sejatinya melampaui sekat agama. Buku ini menegaskan berkali-kali lewat berbagai cerita bahwa mendukung keadilan bagi Palestina bukan soal menjadi Muslim atau tidak, melainkan soal menjadi manusia yang punya empati. Ini adalah pengingat penting di tengah dunia yang kerap membingkai isu kemanusiaan lewat sekat identitas.

Yang membuat saya merenung lebih dalam adalah bagaimana buku ini menampilkan sisi manusia dari tokoh-tokoh yang berada di pihak "bersebrangan". Kebencian dan sikap apatis, seperti yang ditunjukkan lewat tokoh-tokoh seperti Tamar, Noam, atau Yael, sering kali bukan sesuatu yang lahir begitu saja, melainkan hasil dari doktrin yang ditanamkan sejak lama. Buku ini mengingatkan bahwa selama masih ada ruang bagi seseorang untuk menemukan kembali kemanusiaannya, harapan akan perubahan tidak pernah benar-benar tertutup.

Refleksi lain yang tak kalah penting adalah tentang peran sastra itu sendiri. Buku ini membuktikan bahwa sastra bisa bekerja secara sunyi namun persisten sebagai penjaga memori, ketika jalur politik sering terhambat oleh berbagai kepentingan. Menulis dan membaca cerita seperti ini menjadi salah satu cara untuk menolak lupa, bahkan ketika perhatian dunia mulai teralihkan ke isu lain.

Terakhir, dan mungkin yang paling personal, buku ini membuat saya bercermin pada diri sendiri: seberapa sering kita, tanpa sadar, mulai terbiasa dan bersikap biasa saja terhadap berita-berita kekerasan yang terus berulang? Membaca buku ini menjadi pengingat untuk tidak membiarkan empati mati begitu saja hanya karena sebuah tragedi terjadi berulang kali dan terasa jauh dari keseharian kita.

Pembaca yang Cocok untuk Buku Ini

Buku ini layak dibaca oleh semua kalangan: aktivis kemanusiaan, mahasiswa, pelajar, diplomat, sastrawan, hingga pembaca umum yang tidak memiliki latar belakang khusus dalam isu ini. 

Buku ini juga tidak diperuntukkan hanya bagi pembaca Muslim, karena beberapa cerita di dalamnya justru mengisahkan tokoh lintas agama yang berjuang bersama-sama di Gaza. Kemanusiaan, sebagaimana ditegaskan buku ini, tidak mengenal batasan agama, negara, suku, bangsa, atau bahkan usia.

Kesimpulan

Gaza, Suatu Malam di Jakarta bukan sekadar kumpulan cerpen bertema duka. Buku ini adalah anyaman 18 kisah dari berbagai sudut pandang yang saling bertaut, membentuk potret kemanusiaan yang jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan banyak pembaca sebelum membacanya—termasuk saya sendiri. 

Lewat gaya bahasa puitis yang jadi ciri khas Helvy Tiana Rosa, riset yang matang, serta keberanian untuk masuk ke sudut pandang yang paling tak terduga, buku ini berhasil menjadikan sastra sebagai bentuk perlawanan yang sunyi namun persisten untuk kemanusiaan dan keadilan.

Kutipan Buku

"... ia percaya satu hal: bahwa menyulam adalah cara tubuh mengingat mereka yang telah dihapus dari peta. Sehelai benang merah yang melewati lubang kain bisa lebh abadi daripada sejarah yang ditulis oleh kekuasaan"

"Orang Gaza tidak butuh diajari berani. Kita sudah hidup dalam keberanian sejak lahir. Ini hanya pengingat: ada keberanian lain yang mendoakan kita dari jauh"

"Aku tak membenci kalian. Kebencian membuat kita kehilangan kemanusiaan"

"We need witness, not only narrative."

"Di sudut jalan, Mahmud berdiri. Di tangannya, batu yang berdetak dan bercahaya. Di matanya: Gaza yang tak akan pernah mati."

"Tulisan bisa dibakar. Tubuh bisa dibunuh. Tapi kain berjalan dari tangan ke tangan."

"Karena menulis adalah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa kita tidak diupakan."

"Penderitaan tidak boleh dipilih-pilih. Kalau satu bangsa dizalimi, bangsa lain tidak boleh pura-pura tuli."

"Kebaikan, meski sering kalah dalam berita, ia tidak benar-benar mati."

"Ada harga yang lebih mahal daripada kehilangan keluarga: kehilangan nurani, namun tetap merasa dan berani menyebut diri sebagai manusia."

"Nggak perlu jadi muslim untuk membela Palestina! Cukup jadi manusia!"

"Ada sesuatu yang lebih tua daripada seremoni: persaudaraan yang diam-diam padu."

Rekomendasi Buku Sejenis

  • Derana – Helvy Tiana Rosa: Karya lain dari penulis yang sama, juga mengangkat isu kemanusiaan dan persoalan sosial terkait Gaza.
  • Hayya – Helvy Tiana Rosa & Benny Arnas: Novel dengan latar Ramallah dan Masjidil Aqsa, mengikuti alur waktu yang bergerak antara masa kini dan masa lalu.
  • Wild Thorns – Sahar Khalifeh: Novel klasik sastra Arab yang memberikan gambaran mendalam tentang kehidupan di bawah pendudukan, ditulis langsung oleh penulis Palestina.

FAQ Seputar Buku Gaza, Suatu Malam di Jakarta

Apakah buku ini cocok dibaca oleh non-Muslim?
Sangat cocok. Buku ini secara eksplisit menegaskan bahwa dukungan terhadap kemanusiaan di Palestina tidak terbatas pada satu agama tertentu, dan beberapa cerita bahkan menampilkan tokoh lintas agama yang berjuang bersama.

Apakah cerpen-cerpen dalam buku ini saling berhubungan satu sama lain?
Ya. Meski masing-masing cerpen punya alur dan tokoh sendiri, banyak di antaranya saling bertaut lewat sudut pandang berbeda, termasuk dari tokoh-tokoh yang berada di pihak yang berseberangan.

Apakah buku ini berat untuk dibaca karena temanya berat?
Meski temanya berat, gaya bahasa Helvy Tiana Rosa yang puitis dan variasi nada cerita (lirih, satir, getir, kontemplatif) membuat buku ini tetap terasa mengalir dan tidak monoton.

Apa yang membuat buku ini berbeda dari buku-buku lain bertema Gaza atau Palestina?
Buku ini berani menghadirkan sudut pandang dari pihak yang selama ini digambarkan sebagai antagonis, menunjukkan proses kemanusiaan mereka, bukan sekadar menampilkan sisi korban semata.

Apakah ada bagian yang membingungkan dalam buku ini?
Ada dua cerpen dengan pergantian dimensi sebagai sudut pandang tokoh yang sempat terasa membingungkan di awal, namun akan lebih jelas setelah dibaca ulang secara saksama.

 

Jaenal Jalalludin

Blogger, Fotografer, Backpaker yang suka sekali bertualang terutama naik gunung karena selalu bikin raindu jika sudah diatas sana

Lebih baru Lebih lama
Hadiah 56Th Penuh Makna

Formulir Kontak